Tjokroaminoto: Guru Para Pendiri Bangsa Kindle ↠

Tjokroaminoto: Guru Para Pendiri Bangsa Kindle ↠


Tjokroaminoto: Guru Para Pendiri Bangsa ❴Read❵ ➭ Tjokroaminoto: Guru Para Pendiri Bangsa Author Tim Buku TEMPO – Centrumpowypadkowe.co.uk Menentang feodalisme, Haji Oemar Said Tjokroaminoto punya andil menempa para tokoh pergerakan nasional Dialah guru politik serta induk semang Presiden Soekarno serta tokoh pergerakan lain, seperti Sem Menentang feodalisme, Haji Oemar Said Tjokroaminoto Para Pendiri PDF º punya andil menempa para tokoh pergerakan nasional Dialah guru politik serta induk semang Presiden Soekarno serta tokoh pergerakan lain, seperti Semaoen, Musso, Alimin, dan KartosoewirjoDi tangan Tjokro, Sarekat Islam berubah dari organisasi saudagar batik pribumi menjadi gerakan politik yang bedar dan kuat Pidato dan tulisannya menginspirasi puluhan ribu orang dan menumbuhkan semangat kebangsaan Rakyat jelata menganggapnya Ratu Adil , sementara Pemerintah Belanda menjulukinya Raja Tanpa Mahkota.


10 thoughts on “Tjokroaminoto: Guru Para Pendiri Bangsa

  1. Puty Puty says:

    Bicara Tjokroaminoto adalah bicara gerakan dan tokoh tokoh pejuang kemerdekaan, walaupun fokus utamanya tentu mengenai Sarekat Islam serta dinamika politiknya Selain sebagai tokoh penting SI, di buku ini diceritakan juga bagaimana pengaruh Tjokroaminoto sebagai bapak kos pada Soekarno nasionalis , Semaoen, Musso komunis , dan Kartosuwirjo Islam.Bukunya ditulis secara objektif dan tidak terlalu panjang, rasanya seperti membaca majalah TEMPO Namun karena pembagian bab seperti itu banyak kali Bicara Tjokroaminoto adalah bicara gerakan dan tokoh tokoh pejuang kemerdekaan, walaupun fokus utamanya tentu mengenai Sarekat Islam serta dinamika politiknya Selain sebagai tokoh penting SI, di buku ini diceritakan juga bagaimana pengaruh Tjokroaminoto sebagai bapak kos pada Soekarno nasionalis , Semaoen, Musso komunis , dan Kartosuwirjo Islam.Bukunya ditulis secara objektif dan tidak terlalu panjang, rasanya seperti membaca majalah TEMPO Namun karena pembagian bab seperti itu banyak kalimat dan quote yang diulang ulang Pembahasannya pun jadi terasa kurang sistematis Namun demikian buku ini tetap menarik sebagai perkenalan rangkuman terhadap sejarah Indonesia.Satu hal lagi Saya baru tau Tjokroaminoto ternyata dipengaruhi oleh Islam Ahmadiyah


  2. Marina Marina says:

    Books 69 2017 Buku ini untuk memenuhi Tsundoku Books Challenge 2017 3,2 dari 5 bintang Saya dibuat penasaran dengan rumah H.O.S Tjokroaminoto di gang Peneleh, Surabaya Selain itu saya jadi teringat kalau Soekarno, Musso, dan bahkan Kartosoewirjo dulu pernah sempat tinggal di rumah Beliau yah meski pada akhirnya mereka bertiga memilih haluan yang berbeda Nasionalis, Komunis dan Agamis


  3. Candra Candra says:

    Bangsa Indonesia tak boleh lagi dianggap sebagai seperempat manusia.Membaca ini jadi lebih mendalami Tjokroaminoto, bukan hanya sebagai pahlawan untuk dipuja, melainkan juga sebagai manusia Tempo, seperti biasanya, berhasil membumikan tokoh yang banyak diagungkan masyarakat.Dalam pandangan saya sendiri Tjokroaminoto eksis dengan kepribadiannya yang multifaceted Tjokro menjadi purwarupa pemimpin besar di fajar pergerakan nasional, merevolusi cara cara menggalang dan memobilisasi massa, tetapi p Bangsa Indonesia tak boleh lagi dianggap sebagai seperempat manusia.Membaca ini jadi lebih mendalami Tjokroaminoto, bukan hanya sebagai pahlawan untuk dipuja, melainkan juga sebagai manusia Tempo, seperti biasanya, berhasil membumikan tokoh yang banyak diagungkan masyarakat.Dalam pandangan saya sendiri Tjokroaminoto eksis dengan kepribadiannya yang multifaceted Tjokro menjadi purwarupa pemimpin besar di fajar pergerakan nasional, merevolusi cara cara menggalang dan memobilisasi massa, tetapi pula, sebagaimana Shiraishi san menyebutnya, Tjokro bukan seorang pemikir Gagasannya bukan angin segar jika dibandingkan tokoh lain seperti, sebutlah, Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, atau bahkan sekawannya sendiri Hadji Agoes Salim.Sikapnya bisa terbaca seolah plin plan di beberapa waktu Tjokro seorang priyayi yang cukup radikal untuk melakukan bunuh diri kelas, hingga ia hampir dibunuh mertua sendiri, tetapi di kesempatan lain, Tjokro justru menggunakan statusnya sebagai darah biru untuk mengambil alih kontrol suasana yang tidak kondusif dengan menantang orang orang di pertemuan tersebut.Mengetahui sepak terjang Bung Besar sebelum membaca ini membuat saya amat sadar seberapa banyak ia belajar dari Tjokroaminoto Ternyata sejelas, on the face itu Barangkali Kusno memang sedemikian kagum hingga terkesan menjadi versi perbaharuannya Tjokroaminoto pendekatan politik hingga tabiat dan internalisasi kepercayaan mereka.Buku ini khas reportase Tempo sekali enak dibaca dan padat Tokoh tokohnya selalu ditampilkan sebagai manusia dan manusia, bukan sebagai dewa atau nabi atau dalam kasus Tjokro, Ratu Adil seperti biasanya budaya hero worship di masyarakat umum Dalam jatuh bangun dan kekurangan mereka itulah mereka hidup Dan terasa jauh lebih dekat daripada sekadar objek pemujaan yang tidak boleh diperdebatkan.3.75 bintang


  4. Vecco Saputro Vecco Saputro says:

    Singkatnya saya melihat bahwa buku ini menceritakan dua sisi berlawanan dari diri Tjokroaminoto Sisi pertama ialah jalan negosiasi dan dialog Tjokroaminoto ketika bertemu orang yang berbeda dengan ideologinya Sisi kedua ialah jalan keras Tjokroaminoto saat mengubah struktur dan anggota organisasi Sarekat Islam Namun lepas dari dua hal berlawanan itu, kita sebagai pembaca akan melihat sisi sisi kecil Tjokroaminoto Bagaimana dia menyihir perhatian massa dalam pidato yang kelak menjadi inspiras Singkatnya saya melihat bahwa buku ini menceritakan dua sisi berlawanan dari diri Tjokroaminoto Sisi pertama ialah jalan negosiasi dan dialog Tjokroaminoto ketika bertemu orang yang berbeda dengan ideologinya Sisi kedua ialah jalan keras Tjokroaminoto saat mengubah struktur dan anggota organisasi Sarekat Islam Namun lepas dari dua hal berlawanan itu, kita sebagai pembaca akan melihat sisi sisi kecil Tjokroaminoto Bagaimana dia menyihir perhatian massa dalam pidato yang kelak menjadi inspirasi Sukarno dalam berorasi, suasana rumahnya yang menjadi tempat tokoh tokoh pergerakan berdiskusi, dan anggapan massa yang menyebut dirinya sebagai ratu adil adalah sisi Tjokroaminoto yang diungkapkan dalam buku ini.Seluruh sisi Tjokroaminoto dibahas oleh Tim Tempo dengan ringan Sayangnya, saya tidak menangkap masa kecil dan alasan dia memilih jalan dan pikirannya dari buku ini Untungnya, buku ini menyebutkan buku buku rujukan yang mungkin membantu kita


  5. Nuraini Nuraini says:

    Suka secara kemasan dan penampilan Buku saku seri tokoh bangsa ini Ringan utk dibaca dan dibawa2 Tapi isinya lebih seperti artikel reportase ala2 majalah tempo alih2 biografi yg runut dan ada beberapa pengulangan fakta yg terkesan maju mundur Karena itulah sy beri 3 bintang Nilai plusnya lg, dilengkapi foto dan keterangan sejarah.


  6. Dian Shinta Dian Shinta says:

    Lebih menarik membaca buku sejarah di usia sekarang daripada masa sekolah dulu Dulu saya termasuk orang yang sering mengantuk saat Bapak Guru mapel Sejarah sudah masuk kelas dan siap mengajar.Dan, di sini saya dibawa kembali ke awal abad 19 yang hampir 100 tahu sebelum saya lahir.


  7. Alfiandi Sang revolusioner Alfiandi Sang revolusioner says:

    Mencerdaskan Memberikan arti semangat perjuangan bagi kaum muda.


  8. Aghnia Salsabila Aghnia Salsabila says:

    bahasanya ringan untuk menyampaikan sejarah jadi enak, ngalir seperti di kata pengantarnya, bercerita bukan berarti harus kehilangan akurasi sejauh ini saya banyak cengo karena waduh, Tjokroaminoto betulan Master Oogway di Indonesia


  9. Youlee Kawai Youlee Kawai says:

    Tentang seseorang yang begitu besar jasanya dalam membangun fondasi bangsa Indonesia namun tak banyak orang tahu mungkin kita ingat waktu kecil kita sering mendengar dari guru guru kita bahwa indonesia merdeka karena rakyatnya bersatu melawan penjajah bagaikan sapu lidi bila hanya sebatang akan mudah dipatahkan tapi jika banyak akan susah dipatahkan tapi apa pernah kita bertanya siapa yang menyatukan lidi lidi itu yah ialah salah satunya Haji Oemar Said Tjokroaminoto yang sering disingkat m Tentang seseorang yang begitu besar jasanya dalam membangun fondasi bangsa Indonesia namun tak banyak orang tahu mungkin kita ingat waktu kecil kita sering mendengar dari guru guru kita bahwa indonesia merdeka karena rakyatnya bersatu melawan penjajah bagaikan sapu lidi bila hanya sebatang akan mudah dipatahkan tapi jika banyak akan susah dipatahkan tapi apa pernah kita bertanya siapa yang menyatukan lidi lidi itu yah ialah salah satunya Haji Oemar Said Tjokroaminoto yang sering disingkat menjadi H.O.S Tjokroaminoto pemimpin organisasi terbesar pada jamannya yaitu Sarekat Islam yang pada 1919 mencapai 2.500.000 anggota Tjokroaminoto inilah yang pertama kali mencetuskan rumusan nasionalisme dimana sebelumnya perjuangan kemerdekaan masih bersifat sporadis di masing masing daerah Bahwa benar negara ini dibangun oleh para kyai ulama dan keturunan ningrat yang pemikirannya jauh melampaui jamannya yang rela meninggalkan gelar ningrat dan kehidupan priayinya untuk menyetarakan derajat bahwa semua makhluk sama dihadapan tuhan dan menginginkan hukum islam diterapkan Walau pada akhirnya murid muridnya yang juga anggota sarekat islam tercerai berai ada yang beraliran komunis seperti semaoen ygn akhirnya memimpin PKI, Soekarno yang sudah ia anggap seperti anak sendiri beraliran Nasionalis, dan kartosoewiryo yang beraliran agamis, karena sebagai guru beliau memang tidak pernah memaksakan pemikirannya tapi setidaknya beliau sudah mengkader para pemuda2 indonesia sebelum wafatnya itulah yang menjadikan beliau seorang Guru Bangsa karena setelah beliau tidak ada pengkaderan seperti yang dilakukannya dan saat sarekaat islam melemah muridnya maju menjadi orang nomer satu dan juga sebagai bapak proklamator indonesia menggantikannya karena soekarno sendiri pernah berkata bahwa cerminku ialah pak tjokro dan gaya pidatonya pun ia pelajari dari gurunya tersebut harapannya semoga masih ada sosok seperti pak tjokro di era sekarang ini


  10. whyrmd whyrmd says:

    Menceritakan kisah pak cokro dalam perjuangan nasional, yang awalnya hanyalah seorang saudagar batik di laweyan surakarta kemudian dilantik oleh samanhoedi menjadi anggota Sarekat islam hingga akhirnya memiliki karier cemerlang dan diangkat menjadi ketua sarekat islam Mendirikan koran oetoesan hindia dan fadjar asia Jika berbicara di panggung podium seperti Harjuna jika dalam pewayangan yang tidak takut terhadap siapa yang dihadapai Suaranya berat dan tegas, Tidak memiliki rasa takut terhadap Menceritakan kisah pak cokro dalam perjuangan nasional, yang awalnya hanyalah seorang saudagar batik di laweyan surakarta kemudian dilantik oleh samanhoedi menjadi anggota Sarekat islam hingga akhirnya memiliki karier cemerlang dan diangkat menjadi ketua sarekat islam Mendirikan koran oetoesan hindia dan fadjar asia Jika berbicara di panggung podium seperti Harjuna jika dalam pewayangan yang tidak takut terhadap siapa yang dihadapai Suaranya berat dan tegas, Tidak memiliki rasa takut terhadap belanda tercermin dalam keberaniannya meminta langsung untuk mendirikan pemerintahan sendiri saat tengah berpidato Beliau Memiliki 10 anak didik di rumahnya gang paneleh VII yang kemudian beberapa diantaranya menjadi pelopor kemerdekaan indonesia. Mementori dan menginspirasi bapak bangsa soekarno hingga murid lainnya musso, semaoen, alimin, kartosuwiryo Yang kemudian hari berselisih paham dengan beliau sendiri Soekarno nasionalis, musso alimin semaoen darsono yang memilih komunis hingga kartosoewiryo yang islam garis keras Disebut Raja tanpa mahkota oleh belanda, disebut herucokro dari gang paneleh oleh rakyat pada saat itu yang mempercayainya sebagai messiah atau ratu keadilan dalam ramalan jayabaya Orang yang sebenarnya ningrat tetapi akhirnya lebih memilih terjun ke masyarakat bawah untuk mengetahui langsung kondisi masyarakatnya Lahir dimadiun 16 agustus 1883 dan meninggal dijogjakarta 17 desember 1934 akibat penyakit ginjal dan maag kronis


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *