Paperback Þ Jantera Bianglala eBook Ú

Paperback Þ Jantera Bianglala eBook Ú


Jantera Bianglala ❰PDF / Epub❯ ★ Jantera Bianglala Author Ahmad Tohari – Centrumpowypadkowe.co.uk Atas kehendaknya sendiri kehidupan sering memanjakan seseorang dengan cara memberinya kecantikan Srintil, ronggeng Dukuh Paruk dan sekaligus daya hidup pedukuhan yang melarat itu, adalah salah seorang Atas kehendaknya sendiri kehidupan sering memanjakan seseorang dengan cara memberinya kecantikan Srintil, ronggeng Dukuh Paruk dan sekaligus daya hidup pedukuhan yang melarat itu, adalah salah seorang di antara mereka yang mendapat hadiah kecantikanBagi Srintil, menjadi ronggeng adalah tugas hidup yang sudah ditentukan dalam cetak biru pakem hidupnya Namun ketika status ronggeng ternyata mengantarkannya ke rumah penjara selama dua tahun, Srintil berupaya merayap menggapai makna kehidupan yang lebih terang Dengan kemampuan nuraninya sendiri Srintil berhasil mencapai dataran di mana dia mendapat keyakinan baru Bahwa menjadi perempuan milik umum tidak lebih berharga daripada menjadi perempuan rumah tangga Keyakinan baru ini dibelanya dengan keras Dan Srintil merasa hampir menanng ketika seoranng lelaki bermartabat kelihatan menaruh minat kepadanya Sayang, kehidupan masih ingin membanting Srintil sekali lagi; bantingan dahsyat sehingga kemanusiaan Srintil hanya tersisa pada sosok dan namanya Srintil yang hancur jiwa dan raganya menggugah kesadaran Rasus, anak muda sepermainan Srintil ketika bocah Rasus akhirnya mengerti, Srintil yang tinggal menjadi puing dan Dukuh Paruk yang melarat seumurumur adalah amanat baginya Srintil harus dibebaskan dari kegetiran dan Dukuh Paruk bersama puaknya tidak bisa lebih lama dibiarkan seperti apa adanyaJentera Bianglalaini adalah buku ketiga dan terakhir dari urutan dua buku lain yang mendahuluinya, yakniRonggeng Dukuh ParukdanLintang Kemukus Dini Hari.

    Kindle Welcome to the Kindle ereader store Dukuh ParukdanLintang Kemukus Dini Hari."/>
  • Paperback
  • 231 pages
  • Jantera Bianglala
  • Ahmad Tohari
  • Indonesian
  • 23 October 2019

About the Author: Ahmad Tohari

Ahmad Tohari is Indonesia well knowned writer who can picture a typical village scenery very well in his writings He has been everywhere, writings for magazines He attended Fellowship International Writers Program at Iowa, United State on and received Southeast Asian Writers Award on His famous works are trilogy of Srintil, a traditional dancer ronggeng of Paruk Village: Ronggeng Du.



10 thoughts on “Jantera Bianglala

  1. Missy J Missy J says:

    I just finished the 3rd and final book of Ahmad Tohari's Ronggeng trilogy, about Srintil, the Javanese girl, who at a young age became the village's ronggeng (geisha-like tradition). In the first book, we see how everybody manipulates Srintil for their own advantage and how Rasus, her childhood friend leaves her for the military. In the second book, Srintil unknowingly participates in activities and performances for leftist groups which leaves her imprisoned by the end of the book.

    Now, we see Srintil return to her village. She won't talk about what happened to her during her two-year imprisonment. She's an ex-political prisoner now and only the child Goder can help her regain the energy to live. More than ever, Srintil is determined to leave her ronggeng past behind. All she wants is to become a housewife and mother. Rasus gets a few days off from the military and returns to Dukuh Paruk. Everybody expects them to marry, but I was already prepared for Rasus' bad decision of just leaving Srintil and telling the villagers that she can marry any good man who comes her way. That's when Bajus comes in. And economic, technological and infrastructural development. Things just get worse for Srintil and this time we don't have any hope of things improving for her.

    Overall, I have to say that Ahmad Tohari's work really touched upon quintessential truth regarding Indonesian society. Recently, I read this horrific news piece (here) in Jambi (southern Sumatra) of a brother who raped his own sister and she ended up going to jail! The cycle of poverty will always continue if nothing is done about the stupidity of the villagers. But sadly I believe that the people who rule and govern have zero interest in educating the masses, because then they would become harder to control. In the ronggeng story, we see the exact same problem. The parents failed to raise their children properly because they didn't know how. Technology advances, but the people are not ready for the new challenges, creating even more problems.

    Srintil is without a doubt one of the most tragic character I have encountered in Indonesian literature. And Rasus is just a disappointment. His religious revival at the end of this book was just too late and meaningless to me. Religion alone won't be able to help the villagers. It really needs a lot of energy and effort to help them overcome their ignorance and superstition. Indonesia is still dealing with this problem today.

  2. Theo Karaeng Theo Karaeng says:

    Tadinya mau ngasih 5 bintang tapi berkurang gara-gara Rasus. Agak kurang sreg aja menyimak cara bertuturnya yang terkesan ingin memanusiakan Dukuh Paruk :-(

  3. Irene Irene says:

    Phiuuhhh... Gaya bahasa yang kuno sekali. Butuh usaha untuk terbiasa dengannya,
    Menurut saya, Ahmad Tohari masih kurang berani berterus terang dalam penuturannya tentang kehidupan dan pemberontakan di dalamnya. Malah terkesan tunduk pada hegemoni tradisional. Tapi switching plot-nya lumayan lah.

  4. Abdul Wahid Muhaemin Abdul Wahid Muhaemin says:

    Dalam seri terakhir trilogi ini, sang pengarang Ahmad Tohari semakin menjadi. Banyak sekali makna dan pelajaran moral yg diangkatnya dan pembawaan dialektis baik dalam menawarkan suatu kasus individual maupun komunal tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yg perlu dianggap biasa saja.

    Penagarang menurut saya telah kelewatan, tuturan pengalaman demi pengalaman yg penuh kegetiran yg dialami tokoh utama sungguh merupakan kepedihan nan tak tertanggungkan, namun dari keruwetan itulah pembaca diajak untuk memahami seorang wanita sebagai seorang manusia.

    Dan makna tertinggi saat Rasus yg mulanya membiarkan dukuh paruk lestari dlm hal tatanan nilai kehidupan masyarakatnya sebagai ke khasan kebudayaan, mulai menyadari bahwa jalan hidup telah menunjukan dirinya untuk berbuat pada dukuhnya itu menuju jalan ilahi.
    Membuka pintu negeri bebal yg semula terkunci.



  5. Ratih Latifah Ratih Latifah says:

    Yaaa meski ini 38 minggu yang lalu, but akhirnya, buku ketiga dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. AJLJDAJDAGFAGSSAGGA!!! NGGA BISA BERUCAP APAPUN MENGENAI KONTEMPLASI DAN AKHIR KISAH SRINTIL SANG MAHKOTA DUKUH PARUK.
    Asli, ini berakhir dengan kegetiran yang tragis. Begitu tragis.
    Sempet mewek mega-megap saking kerasa sakitnya pas lagi baca, harus dijeda beberapa kali karena overwhelmed banget menjelang bagian akhir.
    Ini sungguh masterpiece dari seorang Ahmad Tohari dan yang ini kudu banget dibaca oleh setiap insan perempuan!!! Ajegile, kudu, wajib!!
    Saat itu setelah membaca buku ini aku merasa harus memberikan jeda terlebih dahulu untuk diri membaca buku yang mengandung kegetiran tokoh perempuannya. Yes, selesai membaca buku ini relung dan mentalku begitu tergoncang kesakitan, ikut merasa kesakitan atas apa yang dibuat si penulis terhadap tokoh fiksinya, gila.

  6. Aidafi Arsyi Aidafi Arsyi says:

    Ya Gusti. Trilogi cerita ini selaras, dan aku mulai bertanya-tanya tentang asal usul kata selaras yang terdengar semakin manis dan menyerupai sejuk angin di dedaunan. Kupikir ini kisah cinta seperti biasa, ternyata sama sekali bukan. Mengait-ngaitkannya dengan pengalaman dan suasana hidupku cukup sulit, karena perenungan dan capaian kearifan seperti ini belum pernah aku rasakan. Aku semakin merasa dunia modern ini benar telah mengikis banyak hal: bahasa, rasa, pengalaman. Perenunganku terganggu oleh perabot dan suara mekanik jarum jam, cahaya artifisial dan suara-suara dari objek yang tidak perlu lainnya. Buku semacam ini paling pantas dibaca di atas tanah, di bawah langit, sehingga setelah habis cerita kita tidak segera disambut kekakuan sekitar. Aku butuh diam berjam-jam untuk meresapi semua sampai yakin aku tidak akan lupa sedikitpun. Tapi, tentu aku akan lupa. Dan itu sebenarnya tidak mengapa karena dari cerita ini pun aku belajar bahwa manusia tidak semerta-merta. Banyak gejolak dilalui walau sudah jelas arahnya. Kalau tidak begitu tidak akan ada cerita. Aku sendiri selalu berkonflik dengan diriku sendiri, tak terkecuali tentang pernikahan. Celoteh orang yang tidak habis mulai bising dan sering membuatku kehilangan arah, merevisi pandanganku berkali-kali. Aku khawatir aku akan terus tidak berpendirian sekalipun telah sampai pada dermaga. Aku pikir aku ini tidak bisa nrimo pandum. Dan aku sering merasa tidak bisa membayangkan hidupku di sini akan cukup lestari.

  7. Risanita Diah Fatmala Risanita Diah Fatmala says:

    Miris. Ngenes. Tragis.

    Nestapa apa namanya ketika Dukuh Paruk merasa seakan tidak boleh lagi ikut merasa memiliki matahari, bumi, dan langit? Nestapa apa namanya ketika Dukuh Paruk merasa segala cicak dan tokek ikut mencibir dan menertawakannya? Dan nestapa apa namanya ketika Dukuh Paruk hanya merasa sebagai tinja kehidupan? Tinja yang harus ada pada diri orang paling bermartabat sekalipun, namun tinja sendiri jauh dari segala martabat.

  8. Erista Erista says:

    Speechless

  9. Carpediem Fanny Carpediem Fanny says:

    Endingnya seperti menggantung. Sampe ga kerasa kalo udah di halaman akhir karena baca versi ebook hehe

  10. Lona Yulianni Lona Yulianni says:

    Ngenes! Ngenes banget. Ngeneeesss banget :'(

    Buku terakhir dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Rasus, anak binaan Dukuh Paruk yang sekarang menjadi tentara kembali ke dusunnya yang renta dan miskin, demi menemui sang nenek yang akan menghadap Sang Khalik. Namun ia tidak menemukan Srintil, yang memang masih ditahan di Eling-Eling. Setelah beberapa lama Rasus kembali ke markas tentaranya, Srintil kembali ke Dukuh Paruk setelah dibebaskan oleh pihak tentara. Srintil sadar ia sekarang bukan perempuan biasa lagi: ia adalah perempuan bekas tahanan; perempuan mantan PKI. Senyum khas ronggengnya sudah tidak terbentuk di bibirnya lagi. Mukanya kuyu, tidak bergairah seperti halnya sewaktu ia menjadi ronggeng. Dan Srintil bertekad ia hanya ingin menjadi seorang ibu rumah tangga saja, itupun kalau ada lelaki yang bersedia menikahi mantan tahanan. Srintil berharap lelaki itu adalah Rasus, namun apa daya Rasus tak kunjung kembali ke dusunnya. Ia tidak ingin lagi menjadi milik semua laki-laki, ia tidak ingin memuaskan hasrat semua laki-laki, ia ingin dirinya, jiwa dan raganya hanya menjadi milik seorang lelaki yang menjadi suaminya kelak.

    Ujian masih datang dalam hidup Srintil. Marsusi kembali menagih janji lama untuk bermalam bersama Srintil dan datangnya orang Jakarta yang terpesona akan kecantikan Srintil. Namun si orang Jakarta ini memberikan kesan mendalam pada hati Srintil. Ketika Srintil sedang menyiapkan diri untuk kedatangan si orang Jakarta - Bajus namanya - beberapa hari sebelumnya, Srintil diharuskan untuk kembali menata hatinya melihat pujaan hatinya kembali ke desa kuyu itu. Rasus dan Srintil kembali dipertemukan dan untuk pertemuan kali ini pun mereka harus terpisah lagi.

    Kembali malang tidak dapat ditolak. Srintil sudah yakin ia akan diperistri oleh Bajus. Alih-alih diperistri, Bajus malah meminta Srintil tidur dengan Blengur, salah seorang atasan Bajus.

    Well, kisah setelah itu bikin saya hampir nangis. Penyesalan tiada henti ketika Rasus melihat keadaan Srintil. Semua orang menyayangkan kisah hidup Srintil yang menjadi kelam begini. Semua orang menyayangkan mengapa dulu Rasus tidak mengambil Srintil menjadi istrinya. Kisah Jantera Bianglala ini sering memukul-mukul hati saya ketika membacanya. Merasakan kegugupan Srintil ketika harus bertemu Rasus lagi, merasa sedih ketika Rasus tak kunjung menginginkannya, merasa pedih ketika Srintil ditawar lagi.

    Ngenes, ngenes, ngenes. Rasus dan Srintil, they were meant to be together. Sakit rasanya ketika tahu Srintil menjadi tidak normal dan pengen nangis rasanya ketika Rasus menerima Srintil apa adanya, dalam keadaan apapun.

    5 bintang untuk perasaan yang tidak bisa terungkapkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *